Jika Seseorang Melakukan Dosa Lalu Bertaubat Kemudian Melakukan Dosa Lagi, Apakah Masih Diterima Taubatnya?

Manusia hidup di dunia ini tidak pernah terlepas dari kesalahan. Karena sudah menjadi fitrah manusia memiliki salah dan dosa kecuali bagi para Nabi dan Rasul yang telah maksum dilindungi oleh Allah SWT. Tapi Allah SWT maha pemurah untuk mengampuni dosa-dosa hamba-hambanya asalkan mereka mau bertaubat. Ini merupakan salah satu ujian dari Allah SWT yang harus kita lalui dan menjadi suatu keseimbangan di mana ada kesalahan maka di situ ada ampunan.

Oleh karena itu, berkali-kali Allah SWT menyebut kata Ghafur dan Rahim di dalam Al-Qur'an yang artinya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ampunan Allah ini juga berlaku meskipun hambanya tersebut melakukan dosa kemudian beraubat lalu melakuan dosa kembali lalu bertaubat. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis,

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ عَبْدًا أَذْنَبُ ذنْبًا فَقَالَ: رَبِّ! أذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْهُ لِي، فَقَالَ رَبُّهُ: أَعْلَمُ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا، فَقَالَ: رَبِّ! أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آَخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي، فَقَالَ: أَعْلَمُ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي، ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَقَالَ: رَبِّ! أَذْنَبْتُ ذَنْبًا آَخَرَ فَاغْفِرْهُ لِي، فَقَالَ: أَعْلَمُ عَبْدِي أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِهِ؟ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَعْمَلْ مَا شَاءَ. متفقٌ عَلَيهِ

Dan dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa maka ampunilah aku. Kemudian Tuhannya berkata, Aku mengetahui sesungguhnya hamba-Ku memiliki dosa dan kemudian dosanya diampuni, maka Aku ampuni dia. Kemudian waktu berjalan sesuai kehendak Allah. Kemudian seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa yang lain maka ampunilah aku. Kemudian Tuhannya berkata, Aku mengetahui sesungguhnya hamba-Ku memiliki dosa dan kemudian dosanya diampuni, maka Aku ampuni dia. Kemudian seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia berkata: Wahai Tuhanku aku telah melakukan dosa yang lain maka ampunilah aku. Kemudian Tuhannya berkata, Aku mengetahui sesungguhnya hamba-Ku memiliki dosa dan kemudian dosanya diampuni, maka Aku ampuni dia maka ia melakukan apa yang ia kehendaki." (Mutafaq Alaih)

Maka dapat disimpulkan, bahwa maksud dari hadis tersebut adalah meskipun berkali-kali hamba Allah melakukan dosa maka akan diampuni oleh Allah SWT dengan syarat ia tidak ada niatan dengan sengaja ingin melakukan dosa kembali setelah bertaubat[1] terlebih melakukan dosa yang sama seperti sebelumnya dan tidak meremehkannya. Serta menetapkan dalam hati kecintaan kepada Allah SWT bersungguh-sungguh mengharap rahmat dan kebaikan dari Allah SWT.[2]

Adapun maksud dari 'yang ai kehendaki' dari kutipan hadis tersebut dalam kitab Tuhfatul Abrar disebutkan, bukan berarti seorang hamba bisa seenaknya melakukan maksiat kembali, tetapi yang dimaksud di sana merupakan suatu peringatan dari Allah agar tidak lalai dengan melakukan dosa. Adanya pengampunan berkali-kali di sini merupakan wujud pertolongan dan kasih saya dari Allah SWT agar kita lebih giat dalam beribadah.[3]

Selain itu, pembagian dosa sendiri itu ada dua macam yakni: dosa kecil dan dosa besar. Dari kedua macam itu cara taubatnya kepada Allah SWT berbeda.

  1. Dosa kecil seperti menyakiti hewan dan lain-lain, dapat diampuni apabila seorang hamba dapat memantapkan hatinya dengan berdzikir dan kembali kepada Allah SWT.
  2. Dosa besar dengan kondisi mengeras hatinya dan zalim, maka biasanya ia akan sulit untuk sadar kecuali tertimpa ujian yang sangat berat dan suasana hati yang kacau, maka tidak bisa langsung diampuni oleh Allah SWT seketika itu. Ia harus mengingat-ingat dan menyesali atas perbuatannya dan berjanji tidak mengulanginya kembali. Maka dengan keutamaan dan rahmat dari Allah ia akan diampuni.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an pada surat An-Nisa ayat 17,

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (17)

"Sesungguhnya taubat kepada Allah bagi orang yang mengamalkan perbuatan buruk dengan kondisi tidak mengerti, kemudian ia bertaubat dalam waktu dekat lalu Allah menerima taubatnya. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana." 

Menurut Imam Ad-Dahak kata-kata 'Jahl' atau tidak mengerti pada ayat tersebut bukan berarti orang yang tidak tahu hukum halal dan haram dari perbuatannya, tetapi yang dimaksud ialah dia melakukan tindakan dosa dengan kebodohannya. Dalam riwayat lain dari Imam Hujaj mempertegas, bahwa orang yang melakukan dosa adalah orang yang bodoh sampai ia sadar dengan dosanya.[4]

Kemudian yang dimaksud kata 'Qarib' atau yang artinya waktu dekat menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam tafsirnya adalah selama manusia yang bersangkutan belum meninggal.[5] Jadi selama manusia masih hidup di dunia maka Allah SWT masih memungkinkan untuk mengampuni dosa-dosanya. Maka dari itu, jangan sia-siakan waktu di dunia ini untuk meminta ampun bertaubat kepada Allah SWT.

Wallahu 'alam...

__________________

[1] Imam Ibnu Malik, Syarh Al-Mashabih, (Idarah Tsaqafah Islamiah), jld 3 hlm 41

[2] Imam Maturidi, Tafsir Al-Maturidi Ta'wilat Ahlussunnah, (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiah), jld 3 hlm 78

[3] Imam Al-Baidlowi, Tuhfatul Abrar Syarh Mashabihus Sunnah, (Kuait: Wizara Al-Awqaf), jld 2 hlm 72

[4] Imam Ibnu Abi Hatim, Tafsir Ibnu Abi Hatim, (Maktabah Nizar Mustofa), jld 3 hlm 897

[5] Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, Tafsir Ibnu Rajab Al-Hanbali, (Maktabah Al-Ashima), jld 2 hlm 21

Posting Komentar untuk "Jika Seseorang Melakukan Dosa Lalu Bertaubat Kemudian Melakukan Dosa Lagi, Apakah Masih Diterima Taubatnya?"